Ka’bah perna menghilang gara-gara perempuan

Konon, Ibrahim bin Adham (w. 165 H/782 M) –pangeran dari Balkh yang menjadi sufi setelah mendengar suara gaib saat berburu di belantara– mengarungi teriknya padang pasir selama 14 tahun menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Di setiap langkah yang ia ayunkan, ia berhenti untuk mengerjakan salat dua rakaat.
Sesampainya di Tanah Suci, betapa terkejutnya Ibrahim bin Adham ternyata Ka’bah yang dia tuju tidak ia temukan. Ia berkata, “Wahai, apakah gerangan yang terjadi? Mungkin mataku terluka oleh sesuatu?”
Tiba-tiba sebuah suara terdengar, “Matamu tidak terluka oleh apapun, tetapi Ka’bah sedang pergi menyambut seorang perempuan yang menuju kemari.”
Sosok perempuan yang disebut dalam kisah di atas, tentu telah mencapai derajat yang sedemikian tinggi, yang hanya bisa ia capai dengan cara melumat hatinya dalam kobaran api cinta kepada Tuhan Sang Kekasih. Perempuan itu benar-benar mistikus cinta sejati, bahkan saat Ka’bah datang menghampirinya, ia menampik kubah batu itu, “Tuhanlah yang aku rindukan, apalah artinya rumah ini bagiku?”

Perempuan itu adalah Rabi’ah al-‘Adawiyah, perempuan sufi nan agung yang digambarkan oleh Fariduddin al-‘Aththar (w. 627 H) dalam Tadzkiratul-Auliyâ’ sebagai “Seorang perempuan yang menyendiri dalam kesucian, yang menghijabi dirinya keikhlasan agama, yang selalu membara oleh api cinta dan kerinduan kepada Sang Ilahi, penerus Maryam…”

Disarikan dari “Sidogiri Media”

Previous Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *